Dilema seorang karyawan
Terlalu lama blog ini dibiarkan seperti tak berpenghuni, bukan karena malas tapi karena kerjaan dikantor butuh konsentrasi tingkat tinggi. Itu sebabnya sudah bbrp waktu tidak ada tulisan yg bisa saya update utk blog ini, namun kali ini saya coba utk menulis sekedar menumpahkan rasa seputar “duka-duka” menjadi karyawan dari seorang bos yg tdk pernah merasakan menjadi karyawan. Mengapa saya menulis bukan “suka duka” tapi melainkan “duka-duka”? Karena kata orang² menjadi karyawan dari seorang pimpinan yg tidak bisa membedakan antara urusan pribadi dg urusan kantor, job desk yg flexible alias multi tasking dan kepemilikan usaha pribadi yg dibungkus menjadi sebuah perusahaan PT [Perseroan Terbatas] terasa lebih banyak dukanya dari pada sukanya. Ini terbukti ketika diluar jam kantor, seorang bos masih menanyakan urusan kerja dengan sikap yg seolah-olah kita masih dilingkungan kantor. Menanyakan sesuatu dg nada tinggi (marah) secara tiba², ironisnya dia tidak pernah melihat satu permasalahan ditelaah lebih jauh atau paling tidak si karyawan diberikan waktu utk menjelaskan duduk permasalahannya bukan langsung main vonis bahwa karyawan salah.
Tragis memang bila kita dihadapkan pd situasi seperti itu, tak sedikitpun utk kita melakukan pembelaan yg seharusnya bukan kesalahan kita sepenuhnya. Saya akui tidak ada satupun seorang bos yg mau disalahkan jika memang dia salah, kecuali seorang pimpinan yg bijaksana dan menghargai bawahan dari semua sisi. Ketika seorang karyawan harus menunaikan tugas dari atasan, bahkan tugas itu bukan bagian dari jobdesknya namun saat ada kesalahan yg msh dalam koridor kewajaran, tak seharusnya bos itu dg lantang dan angkuh menyudutkannya. Berikan waktu/kesempatan buat pegawai utk mencari solusinya, jgn menganggap bahwa smua karyawan hanya butuh gaji/haknya saja tanpa pernah memikirkan kewajibannya. Mereka [read ; karyawan] jg akan memikirkan jalan keluar utk memecahkan masalah yg ia hadapi. Seorang pimpinan seharusnya juga harus mengakui & melihat pengorbanan dari karyawan ketika menjalankan tugas darinya, apalagi kerjaan itu harus dilakukan diluar kota. Pengorbanan utk meninggalkan keluarga, pengorbanan waktu istirahat yg berkurang, pengorbanan pola makan menjadi tidak teratur dan pengorbanan2 yg lain. Hukum perusahaan dg karyawan adalah saling membutuhkan, krn tidak hanya satu pihak yg di untungkan melainkan keduanya.
Jadi kesimpulannya adalah tidak seharusnya seorang bos tidak selalu merasa dirinya benar dan ingin menang sendiri, bgmpun juga tanpa karyawan dia tidak ada apa²-nya…fiuhhhh….












halo kang, lama tak bersua, keep spirit jadi karyawan
May 22nd, 2011 at 5:12 pmupdate atuh kang, sekalian blogrollnya dibenerin yah,,, Blogodie udah tewas,,,hehheh
June 7th, 2011 at 2:09 pmsemangat gan….maju terus pantang mundur….go go go….
July 9th, 2011 at 10:11 amyang sabar bos… nanti juga jadi boss lama lama…
July 28th, 2011 at 7:30 pmWah uda lama nih kang ga apdet..
August 6th, 2011 at 3:18 ammasbro apa kabarnya? lama tak bersua di blogosphere
November 22nd, 2011 at 5:37 pm